sepenggal kisah setelah UN
Sekolahnya butuh waktu 3 tahun,
tapi penentuan untuk kelulusannya hanya butuh waktu 3 hari. 3 tahun dan 3 hari
itu beda jauh lhoo. Ah tapi yang ingin aku bahas bukan masalah waktunya, tapi
masalah perjuangannya, masalah pengorbanannya, dan kenangannya.
Sekolah disini (baca : BHM) itu
butuh perjuangan banget, berjuang untuk datang pagi-pagi biar ga telat, biar ga
dihukum, dan biar ga dapet point. Berjuang saat musim ujian, harus berkutat
dengan bermacam-macam buku, komat-kamit tiap pagi siang sore dan malam.
Berjuang disaat ujian beradu dengan PR dan tugas lainnya. Berjuang untuk
menyelesaikannya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan berjuang
untuk perjuangan-perjuangan yang lain. Silahkan ditambahkan sendiri.
Juga butuh pengorbanan. Mengorbankan
jarak yang tak dekat, mengorbankan waktu yang tidak sebentar, dan mengorbankan
uang yang tidak sedikit. Yang rumahnya jauh pengorbanannya lebih besar, dari
segi waktu, mereka berangkat lebih awal, dan sampai rumah lebih akhir. Dari
segi keuangan, mereka memerlukan uang yang lebih banyak, untuk motor kalau
haus, untuk motor kalau mendadak ngambek (mogok atau ban bocor), dan untuk
keperluan sehari-hari disekolah. Rela mengorbankan waktu tidur dan main meski
masih ngedumel, tapi tetep itu pengorbanan. Rela terkantuk-kantuk dan
tertidur-tidur saat belajar, no problem, itu juga pengorbanan. Rela kehausan,
kelaparan, kepanasan dan kelelahan, gak apa-apa, itu pengorbanan kok. Rela
mengalami 9 L, lemah, lelah, letih, lesu, lemas, lunglai, lusuh, laper, dan
lebay, namanya juga pengorbanan.
Dan ini kenangannya, banyak sekali,
banyak banget. Dari awal MOS yang gak kenal siapa-siapa kecuali teman se-SMP
(itu juga kalo ada barengannya dari SMP) sampai hafal nama temen-temen sekelas
atau bahkan satu sekolah. Dari yang culun cupu sampai bermetamorfosis jadi alay
lebay, eh sorry maksudnya bermetamorfosis jadi remaja tangguh meski hoby galau.
Kalau boleh saya menulis dengan jujur, kelas XII alias kelas 3-lah yang paling
berkesan. Banyak kejadian tak terduga, banyak momen mengharukan, dan ada
peristiwa menegangkan.
Kejadian tak terduga yang akan menjadi rahasia untuk kita, pernah kabur atas nama solodaritas, pernah
mogok dengan menjunjung tinggi arti solidaritas. Tapi ternyata itu
ke-solidaritas-an yang salah. Kejadian ini tidak untuk diulangi apalagi ditiru
!!!
Pernah juga yang telat gak boleh
ikut pelajaran Matematika, disuruh nunggu di teras bak kaum marginal. Yang
istimewa telat 2 menit dihukumnya 2 jam. Ada juga yang telat ngebersihin
halaman sekolah sampai mencuci mukena musholah. Ada juga yang telat dan harus
baca alma’surat dulu.
Momen mengharukan, sweet moment.
Yang pasti itu pas Hari guru. Yaa itu hari special buat guru dan buat murid
untuk menjalankan misi tersirat (modus). Emm pas hari ulang tahun guru juga
deh. Lomba masak yang unforgettable karena selalu jadi juara (yaa walau ane ga
ngebantuin). Waktu hang out bareng keliling Indonesia (TMII). Saat malam
muhasabah dan pagi istigosah, Juga saat muhasabah dikelas, itu murni banjir air
mata. Saat hari terakhir UN itu juga mengharukan. Dan disusul dengan perpisahan
dan acar wisuda yang tak kalah mengharukan dan bahkan malah menyedihkan.
Dan satu lagi, Ada kejadian tak
terduga sekaligus peristiwa menegangkan, yaitu “ngintip-ngintip dijendela, dan
tiba-tiba ada yang masuk dan berorasi.” :D
Nb :
Hari pertama UN, langit cerah,
seakan mendukung kami untuk tetap semangat UN. Di sela-sela UN ku rasakan sepi.
Hening. Tak ada suara. Ku rasakan bingung ketika soal tak bisa ku jawab. Ku
lirik ke kanan ia diam, ku lirik ke kiri itu tembok, ku lihat ke depan tak
kelihatan, ku tengok kebelakang ia bungkam.
Apa aku harus jatuhkan tempat
pensil agar ruangan tak sepi ??? tapi itu pelanggaran. Apa ku jatuhkan peraut
agar berantakan ? atau harus ku patahkan penggaris agar kau mendengar ?
Tapi ternyata aku harus meneriakan
kata “SELESAI” dihari terakhir UN. Dan kami akan meneriakkan kata “LULUS”
ketika pengumuman nanti.
Dy_
Dy_

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda